Uchip21adv’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Archive for materi kuliah Bimbingan&Konseling

Teori belajar

oleh syifa DKK (masiswa Jurusan Psikologi Pendidikan&Bimbingan 2006)

Teori Perkembangan Kognitif (Jean Piaget)

A. Konsep Dasar

Piaget merupakan salah seorang tokoh yang disebut-sebut sebagai pelopor aliran konstruktivisme. Teori Jean Piaget menitikberatkan pada aspek perkembangan pikiran secara alami dari lahir hingga dewasa. Ada tiga aspek perkembangan intelektual yang diteliti oleh Jean Piaget, diantaranya:

1. Struktur, yaitu ada hubungan fungsional antara tindakan fisik, tindakan mental dan perkembangan berpikir logis anak. Struktur merupakan perkembangan dari operasi-operasi, operasi merupakan perkembangan dari tindakan-tindakan (actions). Operasi-operasi memiliki empat ciri, yaitu merupakan tindakan yang terinternalisasi, baik tindakan mental maupun tindakan fisik tanpa ada garis pemisah diantara keduanya. Ciri kedua, bersifat revesibel (dapat dibalik), misalnya menambah dan mengurangi merupakan operasi yang sama yang dilakukan dengan arah yang berlawanan. Selanjutnya, selalu tetap, walaupun selalu terjadi transformasi atau perubahan. Ciri terakhir adalah tidak ada operasi yang berdiri sendiri, suatu operasi selalu berhubungan dengan struktur atau sekumpulan operasi, misalnya operasi pengurangan berhubungan dengan operasi klasifikasi, pengurutan, dan konservasi bilangan yang mana operasi-operasi itu saling membutuhkan. Jadi, struktur merupakan organisasi mental tingkat tinggi, satu tingkat lebih tinggi dari operasi-operasi. Struktur intelektual terbentuk pada individu waktu ia berinteraksi dengan lingkungannya. Struktur yang terbentuk lebih memudahkan individu untuk menghadapi tuntutan yang makin meningkat dari lingkungannya yang berarti telah terjadi suatu perubahan dalam perkembangan intelektual anak.

2. Isi, yaitu pola perilaku anak yang khas yang tercermin pada respons yang diberikannya terhadap berbagai masalah atau situasi yang dihadapinya.

3. Fungsi, yaitu cara yang digunakan individu untuk membuat kemajuan intelektual. Menurut Piaget perkembangan intelektual didasarkan pada dua fungsi, yaitu organisasi dan adaptasi. Organisasi memberikan pada individu kemampuan untuk mensistematikkan atau mengorganisasikan proses-proses fisik atau proses-proses psikologis menjadi sistem-sistem yang teratur dan berhubungan atau struktur-steruktur. Adaptasi sebagai fungsi kedua yang melandasi perkembangan intelektual. Semua organisme lahir dengan kecenderungan beradaptasi dengan lingkungannya, adaptasi terhadap lingkungan dilakukan melalui dua proses yaitu asimilasi dan akomodasi. Dalam proses asimilasi seseorang menggunakan struktur atau kemampuan yang ada untuk menanggapi masalah yang dihadapi dalam lingkungannya. Dalam proses akomodasi seseorang memerlukan modifikasi struktur mental yang ada dalam mengadakan respons terhadap tantangan lingkungannya. Bagi Piaget, adaptasi merupakan keseimbangan antara asimilasi dan akomodasi. Andaikata pada proses asimilasi, seseorang tidak dapat mengadakan penyesuaian pada lingkungannya, terjadilah ketidakseimbangan. Akibat ketidakseimbangan ini, maka terjadilah akomodasi dan stuktur yang ada mengalami perubahan. Perkembangan intelektual merupakan proses terus menerus tentang keadaan ketidakseimbangan dan keadaan seimbang (disequilibirium-equilibirium). Tetapi, bila terjadi kembali keseimbangan, maka individu itu berada pada tingkat intelektual yang lebih tinggi dari sebelumnya.

Teori perkembangan kognitif memandang bahwa intelegensi individu tumbuh dan berkembang melalui interaksi dengan lingkungannya. Interaksi dengan lingkungan yang dilakukan oleh individu secara terus menerus akan membentuk pengetahuan.

B. Tahapan Perkembangan Kognitif

Salah satu sumbangan pemikirannya yang banyak digunakan sebagai rujukan untuk memahami perkembangan kognitif individu yaitu teori tentang tahapan perkembangan individu. Menurut Piaget interaksi dengan lingkungan akan semakin mengembangkan fungsi intelek dilihat dari perkembangan usia melalui tahap-tahap berikut:

1. sensory motor

Tingkat sensori-motor menempati dua tahun pertama dalam kehidupan. Selama periode ini anak mengenal lingkungan dengan kemampuan sensorik dengan penglihatan, penciuman, pendengaran, perabaan, dan menggerak-gerakkannya. Anak mengatur alamnya dengan indera-inderanya (sensori) dan tindakan-tindakannya (motor). Pada tahapan sensori motor, anak tidak memiliki konsepsi “object permanence” bila suatu benda disembunyikan ia gagal untuk menemukannya, seiring dengan bertambahnya pengalaman, mendekati akhir dari tahapan ini anak mulai menyadari bahwa benda yang disembunyikan itu masih ada, dan ia mulai mencarinya setelah ia melihat benda tersebut disembunyikan.

2. pre operational

Tingkat ini ialah antara umur 2 hingga 7 tahun. Anak mengandalkan diri pada persepsi tentang realitas, ia telah mampu menggunakan simbol, bahasa, konsep sederhana, berpartisipasi, membuat gambar, dan menggolong-golongkan. Periode ini disebut pra-operasioanal, karena pada umur ini anak belum mampu melaksanakan operasi-operasi mental, seperti menjumlahkan dan mengurangi. Tingkat pra-operasional terdiri dari dua sub-tingkat. Sub-tingkat pertama antara 2-4 tahun yang disebut tingkat pra-logis, sub-tingkat kedua ialah antara 4 hingga 7 tahun yang disebut tingkat berfikir intuitif.

3. concrete operational

Periode operasional konkret adalah antara umur 7-11 tahun. Anak dapat mengembangkan pikiran logis, dapat mengikuti penalaran logis walaupun kadang-kadang memecahkan masalah secara “trial and error”. Tingkat ini merupakan permulaan berpikir rasional, ini berarti anak memiliki operasi-operasi logis yang dapat diterapkannya pada masalah-masalah konkret.

4. formal operational

Pada umur kira-kira 11 tahun, timbul periode operasi baru, dimana anak dapat berpikir abstrak seperti orang dewasa. Pada periode ini anak dapat menggunakan operasi-operasi konkretnya untuk membentuk operasi-operasi yang lebih kompleks. Kemajuan utama pada anak selama periode ini adalah bahwa ia tidak perlu berpikir dengan pertolongan benda-benda atau peristiwa konkret; ia mempunyai kemampuan untuk berpikir abstrak.

C. Implikasi dalam Proses Belajar Mengajar

Implikasi teori perkembangan kognitif dalam proses belajar mengajar, diantaranya:

1. Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. Oleh karena itu guru mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak.

2. Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik. Guru harus membantu anak agar dapat berinteraksi dengan lingkungan sebaik-baiknya.

3. Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing.

4. Berikan peluang agar anak belajar sesuai tahap perkembangannya.

5. Di dalam kelas, anak-anak hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dan diskusi dengan teman-temanya.

Belajar akan lebih berhasil apabila disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif peserta didik. Peserta didik hendaknya diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan obyek fisik, yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya dan dibantu oleh pertanyaan tilikan dari guru. Guru hendaknya banyak memberikan rangsangan kepada peserta didik agar mau berinteraksi dengan lingkungan secara aktif, mencari dan menemukan hal dari berbagai lingkungan.

Piaget dan para konstruktivis pada umumnya berpendapat bahwa dalam mengajar, seharusnya diperhatikan pengetahuan yang telah diperoleh siswa sebelumnya. Dengan demikian mengajar dianggap bukan sebagai proses di mana gagasan-gagasan guru dipindahkan kepada siswa, melainkan sebagai proses di untuk mengubah gagasan si anak yang sudah ada yang mungkin salah.

Pada proses pembelajaran terdapat tiga prinsip utama yang diungkapkan oleh Piaget supaya peserta didik dapat membentuk pengetahuan secara optimal dan berkembang secara optimal sesuai dengan tahapan perkembangan kognitif peserta didik.

1. Belajar aktif; proses pembelajaran adalah proses aktif, karena pengetahuan terbentuk dari dalam subyek belajar. Untuk membantu perkembangan kognitif anak, kepadanya perlu dikembangkan suatu kondisi belajar yang memungkinkan anak belajar sendiri, misalnya melakukan percobaan, manipulasi symbol-simbol, mengajukan pertanyaan dan mencari jawaban tersendiri, membandingkan pertemuan sendiri dangan pertemuan temannya.

2. Belajar lewat interaksi sosial; dalam belajar perlu diciptakan suasana yang memungkinkan terjadinya interaksi diantara subjek belajar. Piaget percaya bahwa belajar baik diantara sesama, anak-anak maupun orang dewasa akan membantu perkembangan kognitif mereka. Tanpa interaksi sosial perkembangan kognitif anak akan tetap bersifat “egosentris”. Sebaliknya lewat interaksi sosial, perkembangan kognitif anak akan mengarah ke banyak pandangan, artinya khasanah kognitif anak akan diperkaya dengan macam-macam sudut pandangan dan alterrnatif tindakan.

3. Belajar lewat pengalaman sendiri; perkembangan kognitif anak akan lebih berarti apabila didasarkan pada pengalaman nyata dari bahasa yang digunakan berkomunikasi. Bahasa memang memegang peranan penting dalam perkembangan kognitif, namun bila bahasa yang digunakan dalam berkomunikasi tanpa melalui pengalaman sendiri, maka perkembangan kognitif anak cenderung mengarah ke verbalisme. Pembelajaran di sekolah hendaknya dimulai dengan memberikan pengalaman-pengalaman nyata daripada dengan pemberitehuan-pemberitahuan, atau pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya harus persis sama dengan yang diinginkan oleh guru. Disamping akan membelenggu anak, dan tidak adanya interaksi sosial, belajar verbal tidak menunjang perkembangan kognitif anak yang lebih bermakna. Oleh kerena itu Piaget sependapat dengan prinsip pendidikan dari konkrit ke abstrak dari khusus ke umum.

D. Masalah yang Mungkin Dihadapi Peserta Didik

Teori perkembangan kognitif memandang bahwa dalam belajar, individu selalu berkembang yang dirumuskan kedalam beberapa tahapan perkembangan kognitif, sehingga apabila ada masalah pada salah satu tahapan perkembangan maka akan mempengaruhi perkembangan pada tahap selanjutnya. Menurut perspektif teori perkembangan kognitif, masalah yang mungkin muncul dalam belajar berhubungan dengan kurang optimalnya fungsi organisasi dan adaptasi juga berhubungan dengan tingkat kematangan pada setiap tahap perkembangan kognitif.

Masalah berhubungan dengan tingkat perkembangan kognitif, hambatan dalam fungsi organisasi dan adaptasi. Menurut Piaget perkembangan kognitif itu dibagi menjadi empat tahapan, yaitu; (1) sensori-motor, (2) pra-operasional, (3) operasional-konkret, dan (4) operasi formal. Di mana satu tahapan yang lebih rendah menjadi dasar untuk perkembangan pada tahapan selanjutnya. Permasalahan dapat muncul ketika satu tahapan belum tuntas diselesaikan oleh siswa.

BAB III

PERENCANAAN BANTUAN

Teori konseling yang dapat dijadikan acuan dalam menangani masalah belajar dalam perspektif teori perkembangan kognitif (Jean Piaget) adalah Cognitive Behavioral Counseling. Cognitive Behavioral Counseling merupakan suatu ancangan tritmen terapeutik pengubah tingkah laku yang penekanannya diletakkan pada perubahan aspek-aspek spesifik dari proses berpikir seseorang (Mappiare,2006). Pemberian bantuan dapat dilakukan secara individual maupun kelompok.

Bk Karir

Konseling Karir

Pendekatan Tradisional

Latar belakang . Teks ini dibagi menjadi dua teori perkembangan karir yaitu teori “tradisional ” dan teori pertumbuhan. Kita dapat menggunakan sebuah framework yang sama untuk membagi pendekatan-pendekatan ini menjadi konseling karir, setidaknya konseling karir dengan tujuan memilih karir realistis dan kepuasaan. Seringkali seseorang tidak puas dengan situasi pekerjaan mereka dan merasa tertekan karena hal ini, maka dibutuhkan apa yang disebut “konseling penyesuaian karir. Biasanya bentuk konseling karir ini tergantung pada beberapa strategi konseling personal, khususnya dengan isu klinis yang terkandung di dalamnya. Bab ini dilihat pada pendekatan tradisional untuk konseling pemilihan karir. Hal ini ditulis beberapa waktu yang lalu, dan perlu di perbaharui. Ambillah ini sebagai keputusan yang dapat Anda tinjau kembali isinya. Teks dan bacaan Anda yang berhubungan akan membantu Anda untuk melihat hal yang perlu diperbaharui.

Pandangan Tradisional Konseling Karir

Sebuah pendekatan konseling karir telah didefinisikan oleh Crites (1969) yaitu “Sebuah model artikulasi yang baik dan metode bantuan individu dalam membuat keputusan tentang peranan sepanjang hidup mereka dalam dunia kerja dan penyelesaian masalah yang timbul dalam proses pemilihan/penentuan. ” definisi ini adalah bagian yang paling jelas; hanya ambiguitas saja yaitu artinya ” artikulasi baik itu relatif.”

Ketika Crites (1974) mengusahakan sebuah overview pendekatan mayor bagi konseling karir, dia menemukan lima artikulasi baik secara relatif. Kondisi ini belum pernah dirubah sejak saat itu. Crites memulai sebuah investigasi sejarah pada psikologi kejuruan, termasuk bimbingan kejuruan dari konseling yang menonjol sampai era 1930 dan 1940, ketika konseling trait-and-factor mulai dibentuk. Pada akhir 1940an, konseling client-centered telah dipakai untuk memilih karir; dekade selanjutnya diikuti dengan kontribusi dari framework psikoanalisis. Hampir dalam waktu yang bersamaan, Donald Super (1957) mengajukan sebuah framework perkembangan implikasi bagi konseling. Akhirnya, Crites (1974) mencatat aplikasi tersebut pada akhir 1950an prinsip behavior bagi informasi karir-mencari dan memutuskan. Oleh karena itu, dia memutuskan bahwa secara sejarah ada lima pendekatan. Kemudian, Crites (1976) menganggap pendekatan sintetis nya sendiri untuk konseling karir.

Pendekatan ini dinamakan konseling trait-and-factors dikembangkan khusus bagi masalah karir. pendekatan ini menjadi pendekatan perkembangan terbaik dan standar bagi pendekatan lain yang dapat dibandingkan. Oleh karena itu, kami akan memakai pendekatan dan kekuatannya, sepanjang pendekatan behavior bagi konseling karir, terlihat sebagai artikulasi yang baik. Sisanya memiliki artikulasi yang kurang baik pada bidang karir pekerjaan, maka menerima sedikit perhatian.sedangkan hal yang baru, teori perkembangan yang kurang baik terhadap konseling karir sangat penting untuk dipelajari, unit ini meninjau kembali tiga pendekatan tradisional. Pembaca harus megetahui bahwa pendekatan-pendekatan ini dikembangkan pada tahun 1960an dan 70an.

Pendekatan client-centered

Pernyataan yang paling signifikan terhadap konseling karir client-centered tidak datang dari Carl Rogers, bukan juga pernyataan sistematis sebagai sebuah pendekatan isu karir tahun 1940an dan 1950an. Selama periode konseling client-centered menekankan pada penyesuaian sosial-emosional, yaitu pembuat pemilihan karir dan penyesuaian karir yang dibagi. Tidak ada gagasan atau prosedur yang ditawarkan bagi konseling karir.

Berdasarkan Crites (1974), Patterson (1964) mengeluarkan pernyataan terbaik dari teori client-centered yang digunakan bagi konseling karir. Pendekatan ini menekankan pada hasil dan karakteristik konselor yang konsisten dengan pendekatannya. Tujuan konseling yaitu kesesuaian-diri dan pengamalan konsep-diri. Kesesuaian yang ditawarkan konselor, empati, dan dan anggapan positif yang mutlak menetapkan elemen-elemen prinsip terapis dalam konseling dyad (Rogers, 1957).

Patterson (1964) menekankan bahwa konseling karir, khususnya ketika penggunaan tes dan informasi pekerjaan yang diputuskan, harus menetapkan hubungan dalam diri klien. Jika klien meminta informasi pekerjaan atau tes standar administrasinya, kemudian penggunaannya akan lebih konsisten dengan konseling client-centered.

Dalam rangkuman pendekatan ini, Crites (1974, 1981) memandang kontribusi yang penting bagi konseling karier sebagai penambah rasa sensitif konselor terhadap klien dalam pengambilan keputusan dan pengakuan bagaimana sebuah peranan pekerjan dapat mempengaruhi konsep hidup seseorang. Dalam kenyataannya, ada sedikit konseling khusus dalam client-centered bagi memilih karir dan meniru pekerjaan yang berhubungan dengan masalahnya.

Pendekatan Psikoanalisis

Kontribusi psikoanalisis pada awalnya bagi konseling karir datang bagi bagian terpenting dari Edward S. Bordin dan perkumpulannya di University of Michigan (Bordin, 1968); (Bordin;1990); (Bordin, & Kopplin,1973); (Borrdin, Nachman, & Segal, 1963). Bordin (1968), dalam tekanna tertentu saling mempengaruhi antara pribadi klien secara umum dan keputusan khusus, sebuah pendekatan Crites (1974) melabeli ” psikodinamis” . Label ini mungkin lebih sesuai, sejak pandangan Bordin sebagai konseling karir dibalik konsep psikoanalisis bagi sebuah sintesis psikoanalisis dan teori perkembangan lainnya. Contohnya, dia mengambil penddapat Roe , Rogers, dan Super sebagai kontribusi penting bagi konseling vokasional (Bordin, 1968). Pada intinya pendekatan ini adalah asumsi bahwa faktor internal (intrafisik) menjelaskan masalah klien yang memiliki pembuat keputusan. Sebagaimana yang diharapkan, Bordin dan perkumpulan lainnya dalam tulisan mereka tentang konseling karir hanya konsep dalam teori psikoanalisis. Mereka menamakan pendekatan mereka sebuah perkembangan dengan tujuan perkembangan. Mereka memandang hidup dalam siklus yang termasuk seri poin transisi; orang-orang pindah dari satu tahap ke tahap yang lain, meloncat dari satu masa stabil ke masa selanjutnya. Sebuah keputusan vokasional biasanya menandai poin transisi. Ketika seseorang terhalangi (blok intrapisik) atau mendapat tantangan perkembangan bercampur dengan keputusan tersebut, kesedihan akan mengurangi kecemasan dan memotivasi klien untuk mencari pekerjaan.

Ketika hal ini dimulai dengan masalah keputusan karir, pendekatan psikodinamis akan dikembangkan dengan cepat dalam konseling personal. Faktanya Bordin (1968, hal 729) menggambarkan konseling kejuruan sebagai bentuk konftrontasi diri” kebimbangan karir adalah gejala sesuatu lain. Bordin memandang sebuah pilihan karir sebagai ungkapan konsep diri atau identitas diri. Dari semuanya, yaitu kesulitan membuat pilihan karir, sebuah ketidaklengkapan atau rasa salah adalah identitas yang tidak biasa.

Bordin dan Kopplin (1973) mengembangkan sebuah sistem diagnosa yang berusaha mengkategorikan masalah memutuskan karir. Versi sederhana sebuah kategori yang ada. Rangkuman yang mengurangi perluasan seperti subkategori yang menjamin pemisahan investigasi.

  1. Kesulitan sintesis. Situasi dimana tinjauan kognitif yang tidak cukup terjadi pada klien dalam memilih karir dengan benar.
  2. Masalah identitas. Kasus-kasus dimana persepsi diri yang digabungkan dengan pilihan masalah.
  3. Konflik kepuasan. Hal-hal dimana pendekatan/penghindaran serta pendekatan/konflik pendekatan yang terjadi.
  4. Orientasi perubahan. Kasus-kasus dimana ketidakpuasan diri dan keinginan untuk berubah secara personal menjadi potret sebuah pilihan karir.
  5. Patologi jahat. Keadaan dimana fungsi seseorang tidak sanggup memutuskan pilihan karir atau bahkan hal-hal yang harus dikerjakan.
  6. Masalah yang tidak dapat diklasifikasikan. Masalah-masalah yang tidak sesuai dengan kategori diatas.

Dalam usaha yang menggunakan sistem diatas, Bordin dan Koplin (1973) mengkalsifikasikan 82 kasus mahasiswa. Dari kasus tersebut, 59 % telah diagnosa yang berhubungan dengan indikasi masalah, sebuah hasil yang mereka jelaskan dengan mengingatkan pembaca bahwa formasi identitas adalah salah satu tugas perkembangan yang penting untuk masa remaja akhir dan awal masa dewasa. Kepercayaan dalam bekerja pada psikoanalitis dan teori perkembangan Erik Erikson telah terbukti. Ide Erikson (1964,1956,1963,1968) dalam identitas yang ditulis secara berkala dalam literature konseling karir psikoadinamis.

Proses konseling bagi pendekatan ini telah digambarkan oleh Bordin (1968) sebagaimana satu pendekatan dimana konselor berusaha mengoptimiskan perlawanan diri klien pada poin transisi dalam hidup yang ditandai dengan pemilihan karir. Hal ini diharapkaan bahwa klien mengekspresikan minimal (hanya terapis) kecemasan selama proses ini. Tiga tahap dalam proses ini dapat diteliti, melalui eksplorasi masalah, pengaturan kontrak, (membuat keputusan), dan bekerja melalui masalah perkembangan kesulitan membuat keputusan.

Konseling biasanya dimulai dengan tinjauan luar dan tinjauan kongnitif terhadap masalah keputusan karir. Kami menemukan kesulitan membedakan permulaan ini dari konseling trait-and-factor, yang akan dijelaskan kemudian. Ketika proses berlangsung, meskipun konselor menggabungkan konseling personal dengan masalah pemilihan karir. Contohnya, salah satu yang mengharapkan konselor karir psikodinamis untuk mempromosikan investigasi ketergantungan kebutuhan dan metode penyelesaian serta metode pengungkapan agresi. Keduanya akan memilih hubungan akhir pemilihan karir, karena pekerjaan dapat memberikan kepuasan keduanya. Ujian ketakutan dan keinginan klien akan lebih sesuai dan relevan.

Selanjutnya poin keputusan yang kritis akan dicapai melalui; beberapa cara konselor dan klien menegosiasikan apakah konseling berada di balik keputusan karir yang diambil atau tidak, serta bertahan pada tingkatan perubahan kepribadian. Kami berpendapat bahwa banyak kasus kesulitan perpaduan (pandangan kognitif memilih karir) tidak begitu dibutuhkan. Sebagaimana telah dibicarakan sebelumnya, meskipun kebanyakan masalah dalam memilih karir ketika masa remaja adalah identitas yang berhubungan dan membutuhkan konseling personal.

Jika sebuah kontrak dibuat untuk melakukan konseling personal psikodinamis, “bekerja untuk perubahan” mengikuti cara yang sama dengan bertatap muka seperti terapi psikoanalitik-oriented. Teknik-teknis tersebut digunakan dalam tahap akhir, yaitu interpretasi utama yang bertujuan dalam pengertian atau peningkatan pemahaman diri. Ujian-ujian tersebut, khususnya ketertarikan, yang digunakan dan dipahami dalam konseling personal. Pandangan konselor memegang kunci isu perkembangan seperti orang tua/figur identitas, dan lainnya. Kekuatan ego dievaluasikan dan ditingkatkan melalui interpretasi terapis. Setelah konseling, pengurangan konfilk klien dan peningkatan energi fisik serta ego yang meningkat harus mengurangi kesulitan dalam memutuskan karir.,

Adanya bukti yaitu masalah identitas yang berhubungan dengan isu pemilihan karir (Galinsky, & fast, 1996; Hershenson, 1967). Meskipun, permohonan konseling karir psikodinamis tergantung pada seluruh daya tarik terhadap teori psikoanalitis, psikologi ego, dan perawatan modern yang digabungkan. Penting untuk dicatat bahwa pengalaman Bordin sebagai seorang klinis dan pratikan terapi, berbanding terbalik dengan akar pendekatan lainnya dalam pemikiran pendidik dan peneliti. Pelatihan secara klinis, praktek terapi, mayoritas orang yang menyumbang beberapa bentuk terapi berdasarkan analitis (Garfield & Kurtz, 1976), mungkin ketertarikan menggunakan pendekatan konseling karir ini dalam pengaturan perawatan seperti pusat kesehatan mental, praktek pribadi, dan lainnya secara tratdisional yang terlibat langsung dengan masalah karir ini.

Pendekatan Perkembangan

Dalam pandangannya nya terhadap konseling karir, John Crites (1974, hal. 17) mengatakan bahwa pendekatan perkembangan “sistem bantuan klien yang komprehensif dan koheren dengan masalah karir belum diformulasikan.” meskipun belum satupun konseling trait and factor, yaitu pendekatan perkembangan, dimulai dengan tulisan Donald Super.

Dalam terminology proses konseling dan tujuannya, pendekatan perkembangan adalah gabungan antara client-centered dan teknik traits-and-factor ( Crites , 1974). Tujuan penting konseling adalah tujuan umum mempromosikan perkembangan karir. Hubungan tahap perkembangan Super, yaitu tujuan-tujuan tersebut lebih spesifik sebagaimana yang mereka artikan dengan tahap perkembangan selanjutnya yang sesuai dengan klien. Dalam setiap tahap perkembangan, mungkin ada beberapa kemampuan yang berjalan konsisten dengan teori perkembangan karir. Banyak pendekatan perkembangan yang ditunjukkan kemudian dalam diskusi pendekatan komprehensif Crites terhadap konseling karir.

Pendekatan Trait-and-factor

Jauh sebelum 1930an, konseling trait-and-factor merupakan pendekatan tradisional bagi pengmabilan keputusan karir dan standar bagi semua bentuk konseling karir yang ada. Meskipun menonjol dalam sejarah psikologi kejuruan (Vocational), hal ini telah dikritisi dengan beberapa alasan yang besar. Namun, hal ini memperlihatkan bahwa konselor memiliki banyak orientasi yang berbeda, ketika menghadapi keinginan klien yang sesuai secara psikologis untuk membuat keputusan pendidikan atau kejuruan, hampir berputar menuju pendekatan yang sama dengan yang akan digambarkan sebagai konseling trait-and-factor. Karena penggunaannya menyebar, pendekatan ini memiliki gambaran yang lebih detail dari yang lainnya.

Pendekatan trait-and-factor bagi konseling didasari oleh teori sikap yang menyatakan bahwa manusia dapat dimengerti menurut sikap yang mereka tunjukan. Sikap-sikap tersebut adalah karakteristik stabil, dipercaya sebagai bilangan terbatas, daripada kemampuan orang untuk merespo situasi yang sama secara konsisten. Contohnya sikap yang biasanya dimengerti yaitu intelegensi, ambisi, bakate, penghargaan diri. Sedangkan sikap internal seseorang yang tidak dapat diobservasi, dapat mereka bentuk dengan cara mengobservasi sikap yang mereka tunjukan. Penilaian standar, khususnya perlengkapan laporan diri, telah diartikan dengan mempelajari sifat-sifat tersebut. Faktor-faktor secara statistical menggambarkan sifat-sifat yang diperkirakan. Dengan melakukan teknis korelasi kemajuan (faktor analisi), bukti satistik di dapat bagi sifat kepercayaan.

Dalam sebuah konteks konseling, jika seseorang dapat mempelajari sifat klien yang relevan bekerja, seseorang tersebut dapat menolong kliennya untuk memilih pekerjaan yang sesuai bagi mereka. Jelaslah mengapa konseling trait-and-factor telah digambarkan sebagai ” penyesuaian orang terhadap pekerjaan” dan dikritisi sebagai “square-peg”, teori square-hole”.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.