Uchip21adv’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Teori belajar

oleh syifa DKK (masiswa Jurusan Psikologi Pendidikan&Bimbingan 2006)

Teori Perkembangan Kognitif (Jean Piaget)

A. Konsep Dasar

Piaget merupakan salah seorang tokoh yang disebut-sebut sebagai pelopor aliran konstruktivisme. Teori Jean Piaget menitikberatkan pada aspek perkembangan pikiran secara alami dari lahir hingga dewasa. Ada tiga aspek perkembangan intelektual yang diteliti oleh Jean Piaget, diantaranya:

1. Struktur, yaitu ada hubungan fungsional antara tindakan fisik, tindakan mental dan perkembangan berpikir logis anak. Struktur merupakan perkembangan dari operasi-operasi, operasi merupakan perkembangan dari tindakan-tindakan (actions). Operasi-operasi memiliki empat ciri, yaitu merupakan tindakan yang terinternalisasi, baik tindakan mental maupun tindakan fisik tanpa ada garis pemisah diantara keduanya. Ciri kedua, bersifat revesibel (dapat dibalik), misalnya menambah dan mengurangi merupakan operasi yang sama yang dilakukan dengan arah yang berlawanan. Selanjutnya, selalu tetap, walaupun selalu terjadi transformasi atau perubahan. Ciri terakhir adalah tidak ada operasi yang berdiri sendiri, suatu operasi selalu berhubungan dengan struktur atau sekumpulan operasi, misalnya operasi pengurangan berhubungan dengan operasi klasifikasi, pengurutan, dan konservasi bilangan yang mana operasi-operasi itu saling membutuhkan. Jadi, struktur merupakan organisasi mental tingkat tinggi, satu tingkat lebih tinggi dari operasi-operasi. Struktur intelektual terbentuk pada individu waktu ia berinteraksi dengan lingkungannya. Struktur yang terbentuk lebih memudahkan individu untuk menghadapi tuntutan yang makin meningkat dari lingkungannya yang berarti telah terjadi suatu perubahan dalam perkembangan intelektual anak.

2. Isi, yaitu pola perilaku anak yang khas yang tercermin pada respons yang diberikannya terhadap berbagai masalah atau situasi yang dihadapinya.

3. Fungsi, yaitu cara yang digunakan individu untuk membuat kemajuan intelektual. Menurut Piaget perkembangan intelektual didasarkan pada dua fungsi, yaitu organisasi dan adaptasi. Organisasi memberikan pada individu kemampuan untuk mensistematikkan atau mengorganisasikan proses-proses fisik atau proses-proses psikologis menjadi sistem-sistem yang teratur dan berhubungan atau struktur-steruktur. Adaptasi sebagai fungsi kedua yang melandasi perkembangan intelektual. Semua organisme lahir dengan kecenderungan beradaptasi dengan lingkungannya, adaptasi terhadap lingkungan dilakukan melalui dua proses yaitu asimilasi dan akomodasi. Dalam proses asimilasi seseorang menggunakan struktur atau kemampuan yang ada untuk menanggapi masalah yang dihadapi dalam lingkungannya. Dalam proses akomodasi seseorang memerlukan modifikasi struktur mental yang ada dalam mengadakan respons terhadap tantangan lingkungannya. Bagi Piaget, adaptasi merupakan keseimbangan antara asimilasi dan akomodasi. Andaikata pada proses asimilasi, seseorang tidak dapat mengadakan penyesuaian pada lingkungannya, terjadilah ketidakseimbangan. Akibat ketidakseimbangan ini, maka terjadilah akomodasi dan stuktur yang ada mengalami perubahan. Perkembangan intelektual merupakan proses terus menerus tentang keadaan ketidakseimbangan dan keadaan seimbang (disequilibirium-equilibirium). Tetapi, bila terjadi kembali keseimbangan, maka individu itu berada pada tingkat intelektual yang lebih tinggi dari sebelumnya.

Teori perkembangan kognitif memandang bahwa intelegensi individu tumbuh dan berkembang melalui interaksi dengan lingkungannya. Interaksi dengan lingkungan yang dilakukan oleh individu secara terus menerus akan membentuk pengetahuan.

B. Tahapan Perkembangan Kognitif

Salah satu sumbangan pemikirannya yang banyak digunakan sebagai rujukan untuk memahami perkembangan kognitif individu yaitu teori tentang tahapan perkembangan individu. Menurut Piaget interaksi dengan lingkungan akan semakin mengembangkan fungsi intelek dilihat dari perkembangan usia melalui tahap-tahap berikut:

1. sensory motor

Tingkat sensori-motor menempati dua tahun pertama dalam kehidupan. Selama periode ini anak mengenal lingkungan dengan kemampuan sensorik dengan penglihatan, penciuman, pendengaran, perabaan, dan menggerak-gerakkannya. Anak mengatur alamnya dengan indera-inderanya (sensori) dan tindakan-tindakannya (motor). Pada tahapan sensori motor, anak tidak memiliki konsepsi “object permanence” bila suatu benda disembunyikan ia gagal untuk menemukannya, seiring dengan bertambahnya pengalaman, mendekati akhir dari tahapan ini anak mulai menyadari bahwa benda yang disembunyikan itu masih ada, dan ia mulai mencarinya setelah ia melihat benda tersebut disembunyikan.

2. pre operational

Tingkat ini ialah antara umur 2 hingga 7 tahun. Anak mengandalkan diri pada persepsi tentang realitas, ia telah mampu menggunakan simbol, bahasa, konsep sederhana, berpartisipasi, membuat gambar, dan menggolong-golongkan. Periode ini disebut pra-operasioanal, karena pada umur ini anak belum mampu melaksanakan operasi-operasi mental, seperti menjumlahkan dan mengurangi. Tingkat pra-operasional terdiri dari dua sub-tingkat. Sub-tingkat pertama antara 2-4 tahun yang disebut tingkat pra-logis, sub-tingkat kedua ialah antara 4 hingga 7 tahun yang disebut tingkat berfikir intuitif.

3. concrete operational

Periode operasional konkret adalah antara umur 7-11 tahun. Anak dapat mengembangkan pikiran logis, dapat mengikuti penalaran logis walaupun kadang-kadang memecahkan masalah secara “trial and error”. Tingkat ini merupakan permulaan berpikir rasional, ini berarti anak memiliki operasi-operasi logis yang dapat diterapkannya pada masalah-masalah konkret.

4. formal operational

Pada umur kira-kira 11 tahun, timbul periode operasi baru, dimana anak dapat berpikir abstrak seperti orang dewasa. Pada periode ini anak dapat menggunakan operasi-operasi konkretnya untuk membentuk operasi-operasi yang lebih kompleks. Kemajuan utama pada anak selama periode ini adalah bahwa ia tidak perlu berpikir dengan pertolongan benda-benda atau peristiwa konkret; ia mempunyai kemampuan untuk berpikir abstrak.

C. Implikasi dalam Proses Belajar Mengajar

Implikasi teori perkembangan kognitif dalam proses belajar mengajar, diantaranya:

1. Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. Oleh karena itu guru mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak.

2. Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik. Guru harus membantu anak agar dapat berinteraksi dengan lingkungan sebaik-baiknya.

3. Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing.

4. Berikan peluang agar anak belajar sesuai tahap perkembangannya.

5. Di dalam kelas, anak-anak hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dan diskusi dengan teman-temanya.

Belajar akan lebih berhasil apabila disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif peserta didik. Peserta didik hendaknya diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan obyek fisik, yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya dan dibantu oleh pertanyaan tilikan dari guru. Guru hendaknya banyak memberikan rangsangan kepada peserta didik agar mau berinteraksi dengan lingkungan secara aktif, mencari dan menemukan hal dari berbagai lingkungan.

Piaget dan para konstruktivis pada umumnya berpendapat bahwa dalam mengajar, seharusnya diperhatikan pengetahuan yang telah diperoleh siswa sebelumnya. Dengan demikian mengajar dianggap bukan sebagai proses di mana gagasan-gagasan guru dipindahkan kepada siswa, melainkan sebagai proses di untuk mengubah gagasan si anak yang sudah ada yang mungkin salah.

Pada proses pembelajaran terdapat tiga prinsip utama yang diungkapkan oleh Piaget supaya peserta didik dapat membentuk pengetahuan secara optimal dan berkembang secara optimal sesuai dengan tahapan perkembangan kognitif peserta didik.

1. Belajar aktif; proses pembelajaran adalah proses aktif, karena pengetahuan terbentuk dari dalam subyek belajar. Untuk membantu perkembangan kognitif anak, kepadanya perlu dikembangkan suatu kondisi belajar yang memungkinkan anak belajar sendiri, misalnya melakukan percobaan, manipulasi symbol-simbol, mengajukan pertanyaan dan mencari jawaban tersendiri, membandingkan pertemuan sendiri dangan pertemuan temannya.

2. Belajar lewat interaksi sosial; dalam belajar perlu diciptakan suasana yang memungkinkan terjadinya interaksi diantara subjek belajar. Piaget percaya bahwa belajar baik diantara sesama, anak-anak maupun orang dewasa akan membantu perkembangan kognitif mereka. Tanpa interaksi sosial perkembangan kognitif anak akan tetap bersifat “egosentris”. Sebaliknya lewat interaksi sosial, perkembangan kognitif anak akan mengarah ke banyak pandangan, artinya khasanah kognitif anak akan diperkaya dengan macam-macam sudut pandangan dan alterrnatif tindakan.

3. Belajar lewat pengalaman sendiri; perkembangan kognitif anak akan lebih berarti apabila didasarkan pada pengalaman nyata dari bahasa yang digunakan berkomunikasi. Bahasa memang memegang peranan penting dalam perkembangan kognitif, namun bila bahasa yang digunakan dalam berkomunikasi tanpa melalui pengalaman sendiri, maka perkembangan kognitif anak cenderung mengarah ke verbalisme. Pembelajaran di sekolah hendaknya dimulai dengan memberikan pengalaman-pengalaman nyata daripada dengan pemberitehuan-pemberitahuan, atau pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya harus persis sama dengan yang diinginkan oleh guru. Disamping akan membelenggu anak, dan tidak adanya interaksi sosial, belajar verbal tidak menunjang perkembangan kognitif anak yang lebih bermakna. Oleh kerena itu Piaget sependapat dengan prinsip pendidikan dari konkrit ke abstrak dari khusus ke umum.

D. Masalah yang Mungkin Dihadapi Peserta Didik

Teori perkembangan kognitif memandang bahwa dalam belajar, individu selalu berkembang yang dirumuskan kedalam beberapa tahapan perkembangan kognitif, sehingga apabila ada masalah pada salah satu tahapan perkembangan maka akan mempengaruhi perkembangan pada tahap selanjutnya. Menurut perspektif teori perkembangan kognitif, masalah yang mungkin muncul dalam belajar berhubungan dengan kurang optimalnya fungsi organisasi dan adaptasi juga berhubungan dengan tingkat kematangan pada setiap tahap perkembangan kognitif.

Masalah berhubungan dengan tingkat perkembangan kognitif, hambatan dalam fungsi organisasi dan adaptasi. Menurut Piaget perkembangan kognitif itu dibagi menjadi empat tahapan, yaitu; (1) sensori-motor, (2) pra-operasional, (3) operasional-konkret, dan (4) operasi formal. Di mana satu tahapan yang lebih rendah menjadi dasar untuk perkembangan pada tahapan selanjutnya. Permasalahan dapat muncul ketika satu tahapan belum tuntas diselesaikan oleh siswa.

BAB III

PERENCANAAN BANTUAN

Teori konseling yang dapat dijadikan acuan dalam menangani masalah belajar dalam perspektif teori perkembangan kognitif (Jean Piaget) adalah Cognitive Behavioral Counseling. Cognitive Behavioral Counseling merupakan suatu ancangan tritmen terapeutik pengubah tingkah laku yang penekanannya diletakkan pada perubahan aspek-aspek spesifik dari proses berpikir seseorang (Mappiare,2006). Pemberian bantuan dapat dilakukan secara individual maupun kelompok.

No comments yet»

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: